Cerita · Komik

Bertemu dengan Seekor Anjing

Malam itu, saya bersama Nova terlempar jauh ke ujung alam semesta dan di sana kami bertemu dengan seekor anjing golden retriever. Anjing yang menarik lengan Richard itu seolah mengajak bermain, tiba-tiba ngomong, “follow me”. Richard yang tadinya kaget malah jadi penasaran. Perkenalan kami pun berlanjut dengan Cosmo The Spacedog.

Cosmo menjelaskan bahwa kami sedang berada di Knowhere, dimana semua ruang dan waktu saling bertemu, bahkan semua dimensi dari realita yang ada.


Cosmo melanjutkan, “So people come here from all space and time. All species. They come to study, to ….”

“Anjing luu”.

Tiba-tiba seseorang memotong penjelasan Cosmo dengan suara itu dan membuyarkan imajinasi saya yang saat itu sedang membaca komik Nova pada seri Annihilation: Conquest. Saya kira orang itu menyusup ke imajinasi saya.

Tidak cuman saya, beberapa penumpang lain juga spontan melirik ke sumber suara. Wajar, keheningan di gerbong krl jadi pecah karena “anjing” si bapak itu.

“Bego lu yah, gitu aja salah. Anjing lu”, sambil menelpon.

Sejak naik dari stasiun terakhir hingga 5 menit berlalu, si bapak pembawa anjing terus mengumpat. Penampilan bak preman dengan topi newsboy, tidak ketinggalan batu akik di leher dan jarinya, membuat suasana gerbong jadi tidak nyaman. Bukan karena penampilan, tapi karena “anjing”-nya itu loh.

Ternyata ada juga orang seperti ini, dengan pede dan tanpa ragu ngomong kasar di depan umum.

Mengabaikan bapak si pembawa anjing, kami pun berpisah dengan Cosmo. Sebagai hadiah perpisahan atas pertolongannya, Richard melemparkan sebuah hadiah.

“So kind. You are true comrade. Well, goodbye–and good luck.”

Anjing Betina

Dua hari kemudian, kereta benar-benar padat. Untuk berpindah tempat pun sepertinya hal yang susah. Posisi berdiri pun udah gak karuan. Tumpuan bukan di kaki lagi tapi di tangan, bergelantungan.

Seorang ibu yang duduk di sisi kiri, tiba-tiba berdiri dan memecahkan padatnya penumpang. “Misi, misi, misi”. Bermaksud menuju pintu kanan agar mudah keluar.

“Pintu yang akan dibuka adalah pintu sebelah kiri…”, kata si masinis dari pengeras suara.

“Anjiiiing, siapa tadi yang bilangin ke gua kanan”, si ibu itu nyahut. Kesal karena susahnya untuk bisa berpindah sisi saat kereta lagi padat.

Penumpang yang lain serentak istighfar. Si ibu pembawa anjing itu tetap aja dengan emosinya. Spontan saya bilangin, “Bu, kalo gak mau susah yah jangan naik angkutan umum. Naik mobil pribadi aja bu”. Tetap aja gak diperduli 😑. Anjingnya terus disebut hingga dia turun.

Minggu ini kok pada hobi bawa anjing yah. Saya pun terkadang spontan bawa anjing sih (Astaghfirullah), tapi itu gak di tempat umum. Setelah itu pun ada rasa sesal. Ini menjadi pembelajaran introspeksi diri saya untuk tidak bicara yang tidak baik.

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.

(Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s