Cerita · Inspirasi

Tunanetra dan Jalur Kuning

Beberapa saat lagi KRL akan tiba di Stasiun Juanda. Saya pun menutup buku, menandai halaman terakhir dan bersiap untuk turun. Di lain sisi, seorang bapak bangkit dari tempat duduk prioritas sambil memanjangkan tongkatnya. Paham dengan kondisi si bapak, saya pun memegang tangannya dan bertanya.

“Bapak mau ke mana?”

“Mau ke Katedral mas. Ada acara pertemuan tunanetra”.

Sontak saya pun diam berpikir. Si bapak sendirian naik KRL dari Bekasi dengan kondisi seperti itu, bagaimana dia bisa??? ما شاء الله. Dan jarak dari Stasiun Juanda ke Katedral sekitar 700 m. Terlintas niat menuntunnya sampai Gereja Katedral.

Si bapak tidak ragu ketika turun dari kereta. Padahal antara kereta dengan peron ada jarak yang bisa saja membahayakan.

“Ke kanan atau kiri?”, tanyanya. Continue reading “Tunanetra dan Jalur Kuning”

Cerita · Inspirasi

The Empty Attic

 

That any civilized human being in this nineteenth century should not be aware that the earth travelled round the sun appeared to be to me such an extraordinary fact that I could hardly realize it.

“You appear to be astonished,” he said, smiling at my expression of surprise. “Now that I do know it I shall do my best to forget it.”

“To forget it!”

“You see,” he explained, “I consider that a man’s brain originally is like a little empty attic, and you have to stock it with such furniture as you choose…”

“But the Solar System!” I protested.

“What the deuce is it to me?” he interrupted impatiently; “you say that we go round the sun. If we went round the moon it would not make a pennyworth of difference to me or to my work.”

They’re Sherlock and Doctor Watson in Study in Scarlet (1887). One of my favorite dialogues between them. Sherlock always try to control his brain to keep only the useful information. That’s why his knowledge is limited and only related for his job. It makes him very professional in his field. Continue reading “The Empty Attic”

Cerita · Industri · Otomotif

Di Balik Murahnya Produk Cina

Pernah gak kepikiran, kenapa Cina bisa membuat produk dengan harga yang murah? Okelah, mungkin semua sependapat kalo kualitaslah yang menentukannya. Tapi gak semua produk Cina berkualitas di bawah rata-rata loh. Artinya mereka bisa cost down tanpa memainkan kualitasnya.

Sebenarnya banyak faktor sih, tapi yang jadi sorotan saya di sini adalah bagaimana Cina menekan biaya transportasinya. Salah satu biaya yang sering kali kurang diperhatikan oleh pelaku industri. Continue reading “Di Balik Murahnya Produk Cina”

Cerita

Nyasar ke Makassar


Iron Man akhirnya datang setelah seminggu nyasar ke Makassar.

“Kak maaf yaa ternyata paketannya nyasar kak ke makassar huhu 😦 Hari ini baru mau dikembalikan . Maaf ya kak. Ada karyawan baru kami salah nempel alamat”, kata si jasa printnya menjawab keluhan saya via Line.

Kenapa harus ke Makassar. Ingat Makassar tuh bawaannya rindu pengen pulang😞. Kenapa bukan saya aja yang nyasar ke Makassar, huuuu. Continue reading “Nyasar ke Makassar”

Cerita · Komik

Bertemu dengan Seekor Anjing

Malam itu, saya bersama Nova terlempar jauh ke ujung alam semesta dan di sana kami bertemu dengan seekor anjing golden retriever. Anjing yang menarik lengan Richard itu seolah mengajak bermain, tiba-tiba ngomong, “follow me”. Richard yang tadinya kaget malah jadi penasaran. Perkenalan kami pun berlanjut dengan Cosmo The Spacedog.

Cosmo menjelaskan bahwa kami sedang berada di Knowhere, dimana semua ruang dan waktu saling bertemu, bahkan semua dimensi dari realita yang ada.


Cosmo melanjutkan, “So people come here from all space and time. All species. They come to study, to ….”

“Anjing luu”.

Tiba-tiba seseorang memotong penjelasan Cosmo dengan suara itu dan membuyarkan imajinasi saya yang saat itu sedang membaca komik Nova pada seri Annihilation: Conquest. Saya kira orang itu menyusup ke imajinasi saya.

Tidak cuman saya, beberapa penumpang lain juga spontan melirik ke sumber suara. Wajar, keheningan di gerbong krl jadi pecah karena “anjing” si bapak itu.

“Bego lu yah, gitu aja salah. Anjing lu”, sambil menelpon.

Sejak naik dari stasiun terakhir hingga 5 menit berlalu, si bapak pembawa anjing terus mengumpat. Penampilan bak preman dengan topi newsboy, tidak ketinggalan batu akik di leher dan jarinya, membuat suasana gerbong jadi tidak nyaman. Bukan karena penampilan, tapi karena “anjing”-nya itu loh.

Ternyata ada juga orang seperti ini, dengan pede dan tanpa ragu ngomong kasar di depan umum.

Mengabaikan bapak si pembawa anjing, kami pun berpisah dengan Cosmo. Sebagai hadiah perpisahan atas pertolongannya, Richard melemparkan sebuah hadiah.

“So kind. You are true comrade. Well, goodbye–and good luck.”

Anjing Betina

Dua hari kemudian, kereta benar-benar padat. Untuk berpindah tempat pun sepertinya hal yang susah. Posisi berdiri pun udah gak karuan. Tumpuan bukan di kaki lagi tapi di tangan, bergelantungan.

Seorang ibu yang duduk di sisi kiri, tiba-tiba berdiri dan memecahkan padatnya penumpang. “Misi, misi, misi”. Bermaksud menuju pintu kanan agar mudah keluar.

“Pintu yang akan dibuka adalah pintu sebelah kiri…”, kata si masinis dari pengeras suara.

“Anjiiiing, siapa tadi yang bilangin ke gua kanan”, si ibu itu nyahut. Kesal karena susahnya untuk bisa berpindah sisi saat kereta lagi padat.

Penumpang yang lain serentak istighfar. Si ibu pembawa anjing itu tetap aja dengan emosinya. Spontan saya bilangin, “Bu, kalo gak mau susah yah jangan naik angkutan umum. Naik mobil pribadi aja bu”. Tetap aja gak diperduli 😑. Anjingnya terus disebut hingga dia turun.

Minggu ini kok pada hobi bawa anjing yah. Saya pun terkadang spontan bawa anjing sih (Astaghfirullah), tapi itu gak di tempat umum. Setelah itu pun ada rasa sesal. Ini menjadi pembelajaran introspeksi diri saya untuk tidak bicara yang tidak baik.

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.

(Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)